Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menikmati hidup. Setiap orang mempunyai pilihan-pilihan yang harus diambil dalam hidupnya, dan tentunya dia bebas melakukannya. Para rahib di pertapaan St. Maria Rawaseneng pun memilih untuk hidup dalam kesunyian. Jumat malam tanggal 11 April, pertama kalinya bagi saya melihat secara langsung cara hidup para rahib di Pertapaan St. Maria Rawaseneng itu. Dalam ibadah malam yang khusuk, para rahib itu melantunkan mazmur-mazmur dengan penuh penghayatan. Doa-doa yang mereka naikkan menggambarkan betapa mereka mencintai Tuhan, dan keheningan yang ada memperlihatkan betapa tenangnya jiwa mereka. Saya belum pernah melihat kehidupan yang seperti ini sebelumnya. Selama 20 tahun hidup di dunia ini, yang saya temui hanya kebisingan. Setiap orang sepertinya berlomba-lomba untuk mencari kepuasan diri mereka. Jarang sekali saya menemui orang yang tenang, memberi waktu untuk dirinya sendiri untuk diam, mendengarkan diri sendiri, orang lain, apalagi Tuhan, dan saya ada diantara orang-orang itu.
Ketika melihat para petapa itu saya menjadi heran, Apa yang menyebabkan mereka memilih jalan hidup yang seperti itu? Cara mereka mencintai hidup dan mencintai Tuhan sungguh-sungguh membuat saya terkesan. Mereka tidak disibukkan dengan hal-hal yang rumit. Hidup mereka tidak dikacaukan akan apa yang akan mereka makan, trend apa yang sekarang sedang berkembang, dan segudang tuntutan hidup yang saat ini dianggap orang penting untuk melanjutkan hidup di dunia ini (sosial, ekonomi, realisasi diri).
Lalu, timbul pertanyaan dalam benak saya: apakah mereka tidak peduli dengan persoalan-persoalan yang dihadapi dunia saat ini? Perang yang tidak pernah berakhir, bencana alam yang silih berganti melanda Indonesia, naiknya harga-harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya pendidikan, dll. Apa partisipasi mereka atas itu semua? Ketika berbincang-bincang dengan Rm. Benito, salah seorang dari para rahib di situ, pertanyaan saya tadi sedikit terjawab. Beliau mengatakan bahwa mereka bukan tidak peduli, hanya saja cara mereka berbeda. Dari penjelasan beliau, kehidupan para petapa adalah mengahayati kitab suci, bekerja dengan tekun dan askese. Kitab suci dipandang sebagai sarana untuk mengenal Allah, hakikat, kehendak dan karya-karyaNya bagi manusia dan dunia. Bentuk askese para rahib itu adalah mati raga. Mati raga adalah menunda pemenuhan insting, dorongan, keinginan, dan kebutuhan yang lebih kecil untuk kepentingan yang lebih besar.1
Kaulnya adalah stabilitas, kebalikan dari mobilitas. Mereka mencintai peraturan dan hidup menetap. Bagi mereka, jika tidak menetap maka sulit untuk bertekun. Saya mulai mengerti disini, bahwa mereka memang memilih untuk hidup jauh dari keramaian. Mereka bukan tidak peduli, tetapi partisipasi mereka ada di dalam stabilitas yang mereka ciptakan. Saya tertarik dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Rm. Benito bahwa mereka hidup lebih normal dari pada kami (mahasiswa dan dosen). Apa alasannya? Para rahib itu berdoa dan membaca kitab suci tujuh kali sehari (kira-kira 3-4 jam), lalu mereka bekerja selama 6 jam, dan beristirahat selama 8 jam, selebihnya mereka gunakan untuk pekerjaan yang lain. Hidup mereka lebih seimbang dari pada hidup para mahasiswa yang waktunya habis di tempat tidur, atau hidup para pekerja kantoran yang waktunya habis di kantor dan jalanan. Ya, hidup seimbang inilah yang jarang sekali saya temui dalam komunitas saya. Mungkin ada, tetapi mungkin satu diantara seribu.
Ketidakseimbangan yang diciptakan manusia membuat banyak aspek dari kehidupan ini menjadi rusak dan berantakan, contohnya saja alam. Manusia cenderung hanya mengambil saja, tanpa mau memeliharanya. Penebangan hutan yang terus menerus tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Tidak heran jika bencana alam seperti banjir dan longsor silih berganti, cuaca tidak terdeteksi lagi, polusi merajalela dan sebagainya. Belum lagi ditambah dengan teknologi yang semakin maju, aspek kognitif dan afektif manusia sudah tidak seimbang. Manusia cenderung memakai kognitifnya hingga aspek afektifnya menjadi tumpul. Mereka tidak lagi dengar-dengaran akan suara Tuhan. Tidak heran jika sekarang ini orang-orang sepertinya kehilangan hati yang berbelas kasih. Tidak ada lagi belas kasihan, yang ada hanya keserakahan. Wajarkah jika seorang ibu tega menjual anak gadisnya sendiri demi uang? Sungguh hati nurani manusia sudah tumpul, orang-orang hanya mementingkan diri sendiri.
Dalam pandangan saya, para rahib itu berusaha menciptakan stabilitas itu melalui cara hidup mereka. Spiritualitas yang mereka anut membawa mereka pada sebuah komitmen untuk hidup bertekun dalam pekerjaan, hidup setia pada Tuhan melalui doa dan menghayati kitab suci, dan mencintai komunitas tempat mereka tinggal. Dengan hidup setia pada Tuhan, maka secara otomatis Tuhan diakui manusia sebagai yang paling tinggi. Jika Tuhan diakui manusia sebagai yang paling tinngi, maka manusia harusnya dapat bersikap lebih solider terhadap sesamanya. Jika manusia sudah dapat mengakui bahwa langit dan bumi diciptakan dan dimiliki oleh Allah, mereka seharusnya dapat bersikap dan bertindak lebih adil terhadap sesama dan alam. Mencintai keadilan dapat dimulai dari diri sendiri dengan sungguh-sungguh meredam egoisme yang biasanya dibiarkan tanpa kendali.
Lalu, apakah kita juga harus hidup membiara untuk bisa menciptakan stabilitas itu? Apakah kita harus hidup membiara untuk bisa hidup spiritual? Saya rasa tidak seperti itu. Hidup spiritual merupakan dasar hidup. Dengan spiritualitas, orang tidak lagi hidup berdasarkan kebutuhan-kebutuhan seperti fisik, keamanan, sosial, ego dan realisasi diri. Hidup spiritual berarti hidup berdasarkan Roh Allah, mendengarkan suara Allah dan di tuntun oleh Roh Allah. Dengan Roh Allah, ia mendapatkan inspirasi untuk terus menerus menemukan cara baru untuk menyempurnakan diri, misi dan perannya di dunia ini. Hidup spiritual tidak harus dilakukan di pertapaan, tetapi di tengah dunia ramai dengan hidup dan bekerja di tengah masyarakat. Di dunia yang ramai tetap di perlukan kehadiran orang spiritual yang diresapi Roh Allah, yang mengambil bagian dalam sifat-sifat Allah. Di dunia yang ramai dibutuhkan orang yang mau, tahu dan mampu bekerjasama dengan Allah untuk mendatangkan keselamatan, kesejahteraan, dan kebaikan bagi sesama dan mayarakat.2 Hidup spiritual tidak harus menjadi hidup yang terpisah dari masyarakat, tetapi berbaur dengan masyarakat. Dengan cara itu, hidup spiritual menjadi hidup yang tidak hanya berguna bagi yang menjalaninya, tetapi bagi orang lain dan masyarakat. Baru dengan cara itu hidup spiritual dapat membumi, tidak asing, aneh dan jauh dari alam nyata.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar